
Setiap kali harga emas mencetak rekor baru, contohnya di bulan Oktober 2025 yang dianggap puncak harga emas tertinggi, wajar jika investor hingga masyarakat umum bertanya-tanya kenapa harga emas naik dan seolah tak pernah kehilangan daya tariknya. Jawabannya ternyata berkaitan dengan sejumlah faktor ekonomi dan global yang memengaruhinya.
Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Pertanyaan kenapa harga emas naik terus sering kali bisa dijawab dengan satu faktor penting, yakni nilai tukar dolar AS. Menariknya, emas dan dolar memiliki hubungan terbalik.
Ketika dolar melemah, harga emas akan naik. Ini karena emas dianggap lebih aman dibanding uang kertas yang nilainya bisa turun sewaktu-waktu.
Misalnya, apabila dolar kehilangan daya beli, investor global beralih ke emas agar asetnya tidak tergerus inflasi. Jadi, bisa dibilang, semakin lemah dolar, semakin kuat posisi emas di pasar global.

Kalau Anda memperhatikan tren ekonomi, barangkali terlintas teka-teki kenapa harga emas naik gila-gilaan setiap kali inflasi meningkat. Alasannya cukup jelas, karena inflasi membuat nilai uang merosot, sementara emas justru mempertahankan nilainya.
Apabila uang kehilangan daya beli, orang berbondong-bondong mencari aset aman dan tahan krisis seperti emas untuk menyimpan kekayaan. Karena itulah, emas sering dijuluki sebagai “pelindung nilai kekayaan”. Fenomena ini terjadi di banyak negara, tidak terkecuali di Indonesia.

Menyaksikan harga emas yang terus melambung, pernahkah Anda bertanya, kenapa harga emas naik lagi? Salah satu penjelasan utamanya bisa jadi karena hukum dasar ekonomi berupa permintaan (demand) dan penawaran (supply).
Selama krisis atau ketidakpastian ekonomi, masyarakat cenderung beralih ke emas sebagai bentuk perlindungan aset. Namun, pasokan emas mustahil bisa bertambah dengan cepat karena produksinya yang rumit dan mahal.
Sementara itu, tren investasi emas di Indonesia juga ikut meningkat lantaran kesadaran investasi semakin tinggi.

Tak jarang harga emas naik artinya cerminan dari kondisi dunia. Kala muncul kabar perang, krisis energi, atau ketegangan antarnegara, pasar emas langsung bereaksi.
Dalam kondisi seperti itu, banyak orang memilih berinvestasi pada emas daripada saham atau mata uang. Hal ini wajar, mengingat investor global mencari aset yang aman dari risiko geopolitik.
Masyarakat Indonesia pun tidak tinggal diam. Semakin sering tersiar kabar ketidakpastian global, semakin tinggi pula minat masyarakat menyimpan emas fisik sebagai aset jangka panjang.

Menariknya, kenaikan harga emas tidak selalu disebabkan oleh faktor pasar saja. Kebijakan bank sentral nyatanya juga berperan besar terhadap harga emas di seluruh dunia.
Ketika bank sentral (khususnya The Fed di Amerika Serikat) melonggarkan kebijakan moneter atau mencetak uang lebih banyak, nilai dolar cenderung melemah. Akibatnya, harga emas biasanya naik karena investor mencari aset yang nilainya tidak tergerus inflasi.
Fenomena ini kerap terjadi di masa-masa stimulus ekonomi besar, di mana emas menjadi simbol perlindungan nilai di tengah banjir likuiditas. Tak heran jika setiap pengumuman kebijakan The Fed senantiasa dinanti-nanti pasar emas.

Suku bunga turut menjadi salah satu faktor paling menentukan dalam pergerakan harga emas. Alasannya sederhana. Jika suku bunga rendah, bunga deposito dan obligasi menjadi tidak menarik karena imbal hasilnya kecil.
Karena itu, masyarakat dan investor pun mencari alternatif yang lebih menguntungkan, salah satunya emas. Permintaan pun naik, dan harga emas ikut terdorong. Namun, jika suku bunga naik, orang-orang kembali menyimpan uang di bank karena bunga lebih besar, sehingga harga emas bisa tertekan.
Kini Anda tahu kenapa harga emas naik. Jika harga sedang tinggi, jangan lewatkan kesempatan untuk menjual emas Anda. Punya emas warisan atau perhiasan lama? Jual sekarang di Raja Emas Indonesia. Tanpa surat? Bisa. Dapat harga tertinggi, dijamin!