
Di balik megahnya Pegunungan Jayawijaya, tersimpan kisah panjang tentang sejarah tambang Freeport Papua. Sejak masa kolonial Belanda, potensi emas di wilayah ini menarik perhatian dunia. Kini, tambang Freeport menjadi salah satu produsen emas dan tembaga terbesar di planet ini.
Menelusuri kisahnya bukan sekadar belajar sejarah, tetapi juga memahami bagaimana kekayaan emas Indonesia berkontribusi besar bagi pembangunan bangsa.

Sejarah Freeport masuk Indonesia berawal dari catatan seorang pelaut Belanda bernama Kapten Johan Carstensz pada 16 Februari 1623. Ia menulis tentang adanya gunung bersalju di Papua, sesuatu yang dianggap mustahil karena wilayah tersebut berada di dekat garis khatulistiwa.
Namun, catatan ini menjadi awal dari berbagai ekspedisi ilmiah untuk menyingkap misteri gunung salju di Tanah Cenderawasih.

Selanjutnya pada tahun 1909, penjelajah Belanda Hendrikus Albertus Lorentz memimpin ekspedisi besar ke pedalaman Papua untuk membuktikan kebenaran catatan Carstensz.
Dengan bantuan suku Dayak Kenyah yang ahli bertualang di alam liar, Lorentz akhirnya mencapai Puncak Wilhelmina (sekarang bernama Puncak Trikora).
Dari sinilah dunia akhirnya percaya bahwa memang ada “gunung salju” di jantung tropis Indonesia.

Kemudian momen penting dalam sejarah sumber emas Papua terjadi pada 1936. Pada waktu itu Jean Jacques Dozy, ahli geologi Belanda, menemukan dua lokasi kaya mineral yang dinamakan Grasberg (Gunung Rumput) dan Ertsberg (Gunung Bijih).
Penemuan ini sempat terlupakan karena Perang Dunia II, namun kelak mengubah wajah industri pertambangan Indonesia.

Laporan Dozy akhirnya ditemukan kembali oleh Forbes Wilson dari Freeport pada 1959. Freeport sendiri adalah perusahaan tambang raksasa asal Amerika Serikat yang sudah ada sejak tahun 1912.
Perusahaan ini bergerak di bidang penambangan dan pengolahan mineral, terutama emas, tembaga, dan perak.
Wilson selanjutnya melakukan ekspedisi ke Ertsberg dan menemukan cadangan emas, tembaga, serta perak dalam jumlah luar biasa. Klaim itu terbukti benar, sepanjang 1990–2019 saja, jumlah produksi tambah emas di Papua mencapai hingga ± 46 juta ons.

Freeport akhirnya mendapat izin resmi untuk menambang di Papua pada 7 April 1967, di bawah pemerintahan Presiden Soeharto. Era Ini menjadi tonggak sejarah karena Freeport adalah perusahaan asing pertama yang beroperasi di Indonesia setelah kemerdekaan.

Operasi penambangan kemudian dimulai di Ertsberg pada 1973, lalu berlanjut ke Grasberg pada 1988 setelah ditemukan kandungan emas yang jauh lebih besar. Kini orang mengenal Grasberg sebagai tambang emas terbesar di dunia dan salah satu tambang tembaga paling produktif di planet ini.

Meski memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, tambang ini juga menghadirkan tantangan, mulai dari isu lingkungan hingga hak masyarakat adat. Kini, Indonesia telah memiliki saham mayoritas di PT Freeport Indonesia, memastikan manfaat kekayaan alam ini kembali ke negeri sendiri.
Jadi Freeport milik siapa, kepemilikan saham pemerintah Indonesia adalah sebesar, 51,23% dan sisanya, 48,77% milik Freeport-McMoRan Inc, Amerika.
Dari kisah panjang sejarah tambang Freeport Papua, kita belajar bahwa emas bukan hanya simbol kemewahan, tetapi juga bukti kekayaan dan perjuangan bangsa. Nilainya yang abadi menjadikan logam mulia ini selalu jadi favorit dari masa ke masa.
Bagi Anda yang ingin menjual emas lama, jual emas dari toko lain, perhiasan tanpa surat, atau logam mulia, Raja Emas Indonesia siap memberikan harga terbaik dan pelayanan profesional. Di sini, setiap gram emas Anda akan dihargai dengan jujur, fair, dan transparan.
Kunjungi store terdekat kami dan rasakan pengalaman transaksi emas yang nyaman dan menyenangkan.