
Anda mungkin kerap penasaran, emas terbuat dari apa, mengingat logam mulia ini begitu erat dalam keseharian kita, misalnya sebagai perhiasan atau instrumen investasi, atau aset bernilai jangka panjang.
Faktanya di balik kilaunya, emas memiliki asal-usul yang sangat unik dan melibatkan peristiwa kosmik besar yang terjadi jauh sebelum bumi terbentuk. Simak hingga akhir untuk menuntaskan keingintahuan Anda.

Jawabannya adalah tidak! Emas tak terbentuk di dalam perut bumi seperti yang banyak orang bayangkan. Secara ilmiah, emas berasal dari peristiwa kosmik yang sangat ekstrem di luar angkasa.
Dua peristiwa utama yang menjadi sumber terbentuknya emas adalah ledakan bintang besar (supernova) dan tabrakan dua bintang neutron (kilonova).
Kejadian-kejadian kosmik ini menghasilkan suhu dan energi yang sangat tinggi, sehingga memungkinkan terbentuknya unsur-unsur berat seperti emas, platinum, dan uranium.
Energi sebesar itu tidak mungkin terjadi secara alami di bumi. Dengan kata lain, emas simpanan Anda sebenarnya berasal dari sisa-sisa ledakan bintang di luar angkasa miliaran tahun yang lalu.
Setelah peristiwa supernova dan kilonova, sebagian besar emas akhirnya tersimpan jauh di inti bumi. Sementara sebagian kecil terdorong ke kerak bumi melalui aktivitas geologi seperti pergerakan lempeng, gempa bumi, dan letusan gunung berapi.

Lalu emas terbuat dari unsur apa? Dalam perspektif ilmu kimia, emas memiliki simbol Au yang berasal dari kata Latin Aurum. Emas termasuk logam transisi golongan 11 dalam tabel periodik dan terkategorikan sebagai logam mulia karena sifat fisik serta kimianya yang sangat istimewa.
Berbeda dengan banyak logam lain, emas tidak mudah bereaksi dengan lingkungan sekitarnya. Beberapa sifat utama emas yang membuatnya sangat bernilai antara lain:
Inilah alasan mengapa emas kuno yang ditemukan dalam situs sejarah masih tetap berkilau hingga saat ini. Keunggulan inilah yang menjadikan emas bukan sekadar logam biasa, melainkan simbol keabadian dan kestabilan nilai.

Salah satu alasan utama mengapa emas sangat mahal adalah karena kelangkaannya di kerak bumi. Kandungan emas di kerak bumi hanya sekitar 0,004 ppm. Artinya, dalam satu ton batuan, rata-rata hanya terdapat sekitar 0,04 gram emas.
Sebagai perbandingan, besi yang juga banyak digunakan manusia memiliki kandungan hingga 50.000 ppm di kerak bumi. Perbedaan yang sangat jauh ini menjelaskan mengapa emas menjadi logam bernilai tinggi.
Emas yang berada di kerak bumi inilah yang kemudian kita dimanfaatkan melalui proses penambangan. Metode paling sederhana adalah pendulangan emas di sungai, yang memanfaatkan massa jenis emas yang lebih berat dibandingkan pasir dan batuan lain.
Sementara itu, metode modern melibatkan survei geologi, penghancuran batuan, proses ekstraksi, hingga pemurnian untuk menghasilkan emas dengan tingkat kemurnian lebih dari 99%.
Salah satu contoh tambang emas terbesar di dunia adalah Tambang Grasberg di Papua, Indonesia, yang mampu memproduksi lebih dari 50 ton emas setiap tahunnya.
Meski demikian, proses penambangan emas membutuhkan waktu, teknologi, dan biaya yang sangat besar, sehingga emas tidak bisa diproduksi secara massal dengan mudah.
Sekarang Anda sudah tahu emas terbuat dari apa, yakni terbentuk dari proses alam semesta yang sangat langka dan tidak dapat diciptakan ulang dengan mudah. Inilah yang membuat emas selalu memiliki nilai tinggi dan stabil dari waktu ke waktu.
Jika Anda memiliki emas batangan, perhiasan, atau emas lama yang ingin dijual dengan proses aman dan transparan, “Kami Terima Emas Harga Tinggi”. Raja Emas Indonesia siap memberikan penawaran terbaik sesuai nilai pasar untuk setiap emas yang Anda miliki.