
Artefak Emas kuno selalu menjadi simbol kejayaan, kemakmuran, dan tingginya peradaban suatu bangsa. Di Indonesia, berbagai temuan emas dari masa lampau membuktikan bahwa Nusantara bukan hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga pernah menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan dunia.
Dari daratan Sumatera hingga dasar laut Jawa, emas menjadi saksi bisu perjalanan sejarah yang luar biasa.

Penemuan emas kuno di wilayah Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, menjadi bukti kuat kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Di kawasan lahan gambut ini, para peneliti menemukan berbagai perhiasan emas seperti cincin emas kuno, kalung, serta perhiasan bermata batu mulia.
Yang menarik, beberapa artefak menunjukkan motif bercorak Mesir dan Indo-Pasifik. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Sriwijaya memiliki jaringan perdagangan internasional yang luas pada abad ke-9 hingga ke-14.
Emas-emas tersebut diyakini digunakan oleh kalangan bangsawan, pendeta, hingga pedagang elit pada masanya.

Di Boyolali, Jawa Tengah, warga menemukan 22 lempengan emas 18 karat (pripih) yang mengandung prasasti aksara Jawa Kuno. Prasasti tersebut memuat nama delapan dewa penjaga mata angin atau Dewa Lokapala.
Temuan ini sangat istimewa karena menunjukkan bahwa emas tidak hanya digunakan sebagai perhiasan, tetapi juga sebagai media penulisan resmi.
Fakta bahwa prasasti ditulis di atas emas menandakan tingkat kemakmuran kerajaan yang sangat tinggi serta penghormatan besar terhadap nilai spiritual dan simbol kekuasaan.

Salah satu penemuan emas kuno terbesar di Indonesia adalah Temuan Wonoboyo di Klaten, Jawa Tengah. Harta karun ini ditemukan pada 17 Oktober 1990 secara tidak sengaja saat penggalian sawah untuk proyek irigasi.
Di dalam sebuah guci keramik Tiongkok, tersimpan artefak emas dan perak dari abad ke-9, masa Kerajaan Medang. Total beratnya mencapai 16,9 kilogram, terdiri dari 14,9 kg emas dan 2 kg perak.
Benda-benda emas tersebut meliputi bokor dan baskom berukir kisah Ramayana, gelang emas kuno, cincin, subang, kalung, tas tangan emas, gagang keris, hingga koin emas kuno Indonesia berbentuk biji jagung.
Saat ini, temuan Wonoboyo ini menjadi penghuni Museum Nasional Indonesia sebagai salah satu koleksi paling berharga.

Harta karun Sambas ditemukan di wilayah pesisir Kalimantan Barat dan berasal dari abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Temuan ini terdiri dari arca Buddha dan Bodhisattva dari emas, perak, dan perunggu.
Kehalusan pahatan serta kualitas logam menunjukkan bahwa benda-benda ini kemungkinan dulu milik bangsawan atau pejabat tinggi penganut agama Buddha. Harga emas kuno ini tentu luar biasa tinggi jika kita konversikan dengan nilai uang saat ini.
Sayangnya, sebagian besar koleksi emas kuno Sambas kini jadi koleksi British Museum, London, setelah berpindah tangan pada pertengahan abad ke-20.

Di perairan Cirebon, ditemukan bangkai kapal dagang yang tenggelam sekitar abad ke-10 Masehi. Kapal ini berada di kedalaman sekitar 56 meter dan berjarak kurang lebih 80 mil dari pelabuhan.
Dari proses pengangkatan, pihak berwenang menemukan sekitar 270.000 objek berharga, termasuk emas, mutiara, kristal, serta artefak dari Dinasti Fatimiyah. Temuan ini memperlihatkan betapa ramainya jalur perdagangan laut Nusantara pada masa lalu.
Berbagai temuan di atas menunjukkan bahwa emas kuno bukan sekadar logam mulia, melainkan saksi kemegahan peradaban Nusantara yang telah maju jauh sebelum era modern. Nilainya tidak hanya terletak pada harga, tetapi juga pada sejarah dan makna yang terkandung.
Bagi Anda yang ingin menyimpan emas sebagai aset bernilai tinggi sekaligus sarana menjaga kekayaan jangka panjang, Raja Emas Indonesia siap jadi mitra terbaik Anda. Melalui aplikasi Raja Emas, Anda bahkan bisa memesan emas dan tinggal mengambilnya di store REI terdekat tanpa antre.