
Kenaikan harga emas selalu menarik perhatian. Tetapi di balik euforia itu, muncul juga rasa penasaran tentang apakah harga emas bisa turun lebih dalam lagi dalam waktu dekat. Pertanyaan ini wajar diajukan, mengingat banyak faktor bisa memengaruhi nilai logam mulia ini.

Tidak sedikit orang kaget ketika harga emas turun. Kenyataannya, harga emas bisa naik-turun mengikuti berbagai faktor.
Misalnya, ketika inflasi meningkat atau nilai mata uang melemah, harga emas biasanya ikut terdongkrak. Namun, begitu kondisi ekonomi membaik, harga bisa terkoreksi sementara. Menariknya, pola ini membentuk siklus alami yang sudah terjadi selama puluhan tahun.
Contoh terbaru adalah pasca lonjakan permintaan “safe haven” selama pandemi, emas kembali mencetak rekor pada 2025 ketika ketegangan geopolitik dan ketidakpastian makro mendorong permintaan.
Meski demikian, para ahli mencatat bahwa harga emas bisa sangat bergejolak dan berpotensi turun drastis jika kebijakan bank sentral berubah atau kondisi pasar dinilai sudah jenuh.
Nah, kembali ke pertanyaan semula: apakah harga emas bisa turun anjlok? Jawabannya adalah “ya”, dan perlu dicatat bahwa hal tersebut sepenuhnya normal.

Sebagaimana yang sudah disinggung sebelumnya, ada sejumlah faktor penting yang memengaruhi penurunan harga emas, di antaranya:
Faktanya, harga emas dunia bergerak berbanding terbalik dengan dolar AS. Apabila dolar menguat, harga emas cenderung terdorong turun, dan sebaliknya.
Hal ini karena kenaikan nilai dolar membuat nilai emas menjadi lebih mahal di mata investor. Akibatnya, permintaan akan logam kuning ini melemah dan mendorong harganya untuk turun.
Inflasi yang tinggi berarti daya beli uang menurun. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat mencari aset yang nilainya tidak tergerus waktu. Emas pun kerap menjadi pilihan utama.
Karena itu, menanggapi kenaikan inflasi, harga emas hampir selalu ikut naik sebagai bentuk perlindungan terhadap penurunan nilai uang.
Suku bunga acuan The Fed menjadi sinyal penting bagi pasar global. Kenaikan suku bunga membuat investor lebih tertarik menabung dalam bentuk deposito atau surat utang karena imbal hasilnya meningkat. Sebagai akibatnya, permintaan emas cenderung menurun.
Sebaliknya, ketika suku bunga diturunkan, emas kembali diminati.
Sementara itu, pergerakan rupiah terhadap dolar AS turut berpengaruh besar terhadap harga emas dalam negeri. Apabila rupiah melemah, harga emas otomatis naik lantaran biaya impor meningkat. Sebaliknya, rupiah yang kuat mendorong harga emas untuk turun.
Permintaan masyarakat untuk emas fisik juga menjadi pendorong harga. Di kala permintaan tinggi, misalnya menjelang hari raya atau musim pernikahan, harga bisa melonjak karena stok terbatas.
Ketika ekonomi sedang tidak menentu, masyarakat cenderung mengamankan asetnya dalam bentuk emas.
Namun, jika ekonomi tumbuh baik dan peluang investasi lain terbuka, minat terhadap emas berkurang. Kondisi ini menunjukkan betapa erat hubungan antara harga emas dan keyakinan masyarakat terhadap masa depan ekonomi negara.
Jadi, apakah harga emas bisa turun? Ya, tetapi justru itulah kesempatan emas Anda untuk membeli emas untuk investasi dengan harga lebih baik. Gunakan momen tersebut dengan bijak bersama Raja Emas Indonesia yang menawarkan harga jual-beli logam mulia paling kompetitif, serta pengecekan terbuka langsung di hadapan Anda.