
Istilah inflasi emas belakangan makin sering terdengar, terutama saat harga kebutuhan pokok terus naik dan nilai uang terasa makin menyusut. Kondisi ini membuat banyak orang bertanya-tanya, apakah emas juga ikut terkena inflasi seperti uang tunai?
Keresahan ini wajar. Sebab, di satu sisi emas terkenal sebagai aset aman, tapi di sisi lain harganya juga bisa naik dan turun. Jadi, apakah emas benar-benar kebal inflasi atau justru terdampak dengan cara berbeda?
Untuk menjawabnya, mari kita bahas detailnya di bawah!

Secara sederhana, inflasi adalah kondisi ketika harga barang dan jasa mengalami kenaikan dalam periode tertentu. Dampak inflasi ini adalah turunnya daya beli uang.
Contohnya, uang Rp100 ribu yang dulu cukup untuk memenuhi beberapa kebutuhan, kini hanya mampu membeli sebagian saja. Situasi inilah yang membuat banyak orang mulai mencari aset yang nilainya tidak mudah tergerus inflasi.

Inflasi pada dasarnya berkaitan dengan melemahnya nilai uang akibat kenaikan harga. Karena itu, istilah inflasi sebenarnya lebih tepat dikaitkan dengan mata uang.
Namun, istilah “inflasi emas” sering muncul karena masyarakat melihat harga emas ikut naik saat inflasi meningkat. Padahal, emas tidak mengalami inflasi seperti uang.
Lalu, kenapa emas tahan inflasi sementara nilai uang justru terus menyusut? Jawabannya ada pada sifat dasar emas sebagai aset riil yang jumlahnya terbatas dan tidak bisa Anda sesuka hati.
Uang juga bisa kehilangan nilai karena kebijakan ekonomi dan pencetakan berlebihan. Sedangkan emas akan mempertahankan nilainya karena kelangkaan dan nilai intrinsik yang dimilikinya.
Jadi, inflasi emas lebih bersifat istilah kontekstual untuk menggambarkan respons harga emas terhadap kondisi ekonomi, bukan inflasi dalam arti sebenarnya, ya.
Baca Juga: Jika Dolar Turun Maka Harga Emas?

Inflasi dan harga emas umumnya memiliki hubungan positif, meski tidak selalu berbanding lurus. Pola hubungan keduanya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Saat inflasi naik, nilai mata uang dan daya beli masyarakat melemah. Di sini, emas dianggap mampu mempertahankan nilai kekayaan, karena sifatnya yang langka dan relatif tahan inflasi. Kondisi ini mendorong peningkatan permintaan dan harga emas.
Inflasi tinggi memicu ketidakpastian ekonomi, yang membuat investor cenderung mengurangi aset berisiko dan mengalihkan dana ke emas. Karena itu, akhirnya harga emas berpotensi melonjak.
Kenaikan inflasi membuat uang tunai dan tabungan kehilangan nilai riilnya. Kemudian banyak yang memilih emas sebagai alternatif penyimpan nilai yang lebih stabil. Pola ini akhirnya membuat permintaan emas jadi melonjak.
Inflasi sering diikuti pelemahan dolar AS, mengingat harga di pasar internasional yang memakai dolar. Karena itulah, saat dolar AS melemah, harga emas jadi lebih terjangkau bagi pembeli global. Alhasil, permintaan dan harga emas terdorong naik.
Selain inflasi, faktor lain yang memengaruhi harga emas adalah:
Dengan memahami inflasi emas dan faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harganya, Anda bisa mengambil keputusan jual beli aset ini dengan lebih tepat. Jika ingin memanfaatkan momentum, Anda bisa mengecek harga emas hari ini langsung di website Raja Emas Indonesia.
Selain cek harga, Anda juga bisa menjual atau membeli logam mulia dan perhiasan dengan aman, transparan, dan harga terbaik. Entah mau menjual atau membeli di momen inflasi emas, pastikanlah memilih Raja Emas Indonesia sebagai tempat transaksinya!