
Berbicara tentang landmark ikonik di Depok, tak lengkap tanpa menyebut masjid kubah emas Depok atau Masjid Dian Al-Mahri. Kubahnya yang berlapis emas murni menjadi daya tarik utama yang mencerminkan kemuliaan spiritual sekaligus keindahan arsitektur Islam modern.
Tak heran jika ribuan pengunjung datang setiap tahun, baik untuk beribadah maupun sekadar mengagumi simbol keagungan ini. Tertarik mengetahui raksasa di balik kemegahannya? Simak selengkapi di bawah!

Perjalanan pembangunan masjid kubah emas Depok bermula dari visi besar pasangan Dian Al-Mahri dan Maimun Al Rasyid. Keduanya membeli lahan seluas 50 hektar di Kecamatan Limo pada tahun 1996.
Arsitek Uke Setiawan memimpin proyek ambisius ini yang baru mulai beroperasi secara fisik pada 2001 dan berlangsung selama tujuh tahun. Hasilnya adalah struktur megah seluas 8.000 meter persegi.
Pembangunan masjid tuntas pada akhir 2006. Pihak berwenang meresmikannya tepat pada 31 Desember, bersamaan dengan Iduladha kedua tahun tersebut. Sementara itu, salat Ied 1427 Hijriah menjadi ibadah perdana yang dilaksanakan di dalamnya.

Di bawah arahan arsitek masjid kubah emas Depok, masjid ini mengusung gaya global dengan menggabungkan elemen khas Arab, Persia, dan India. Hasilnya tampak pada bentuk kubah utama yang menyerupai Taj Mahal.
Lima kubah besar dan empat kubah kecil mendominasi struktur masjid. Ciri khasnya terletak pada lapisan mozaik emas 24 karat yang menyelubungi seluruh kubah. Lapisan emas ini bahkan berketebalan hingga 3 milimeter yang jauh melebihi teknik pelapisan emas biasa.
Lima kubah besar tersebut melambangkan lima rukun Islam. Sementara itu, enam menara menjulang setinggi 40 meter melambangkan enam rukun iman. Kemewahan mozaik emas 24 karat memuncaki menara, dan granit abu-abu asal Italia membalut badan menara.
Sebagai gambaran, ketebalan 3 milimeter itu sekitar 6.000 kali lebih tebal dari lembaran emas yang dipakai untuk melapisi kubah atau ornamen bangunan bersejarah di dunia. Nilai emasnya saja bisa mencapai lebih dari 30 triliun rupiah.
Interiornya sendiri tak kalah megah. Ornamen emas menyelimuti mimbar, merangkai kaligrafi, serta mengelilingi railing dan mahkota pilar. Di tengah ruang utama, tergantung lampu gantung raksasa seberat 2,7 ton dari kuningan berlapis emas, dengan sentuhan pengrajin Italia yang detailnya luar biasa.
Bila dinilai dari bahan dan pengerjaannya, harga satu lampu sekelas ini bisa mencapai miliaran rupiah dan mungkin melampaui angka itu jika seluruh lapisan emas dan kristalnya diperhitungkan.

Kilau kubah-kubah emas Masjid Dian Al-Mahri mengukuhkan statusnya sebagai simbol kemegahan, sekaligus magnet wisata religi yang menarik perhatian. Pengunjung dapat beribadah sambil menikmati arsitektur yang menawan serta suasana yang sejuk dan damai.
Setiap akhir pekan, kawasan masjid ramai oleh wisatawan yang datang untuk mengabadikan momen di tempat yang sarat makna spiritual ini.
Di atas lahan 50 hektar, kompleks ini menawarkan fasilitas lengkap seperti taman hijau, aula serbaguna, dan tempat belajar Al-Qur’an. Berkat kelengkapan fasilitasnya, kawasan ini sesuai baik untuk acara keagamaan maupun rekreasi bersama keluarga.
Di sisi lain, emas merepresentasikan kemurnian dan keteguhan dalam perspektif spiritual serta budaya. Selain itu, logam mulia ini pun melambangkan keberkahan. Logam mulia ini menyimbolkan nilai yang abadi, sebagaimana ajaran untuk menjaga kemuliaan dalam niat dan tindakan.
Akan tetapi, emas juga membawa makna duniawi yang kuat, yaitu sebagai aset yang nilainya terus meningkat dan mampu menopang stabilitas kekayaan.
Seperti kemegahan masjid kubah emas Depok, emas mengajarkan kita untuk menyeimbangkan nilai spiritual dengan kecerdasan finansial. Untuk itu, percayakan jual-beli emas di Raja Emas Indonesia untuk harga terbaik dan investasi penuh makna keberkahan.