
Pernahkah Anda bertanya-tanya apa sebenarnya hubungan inflasi dengan harga emas. Kenapa harga emas meningkat ketika harga barang kebutuhan ikut melambung? Kondisi tersebut tidak terjadi tanpa alasan. Dalam konteks ekonomi, emas kita kenal sebagai aset teraman saat inflasi menyerang.
Ketika nilai uang menurun sehingga harga kebutuhan terdampak, emas justru menunjukkan ketangguhannya dengan menjaga bahkan meningkatkan nilainya. Mari kita bahas lebih dalam logika ekonomi cara kerja investasi anti inflasi ini.

Inflasi adalah keadaan naiknya harga barang dan jasa secara berkelanjutan dalam kurun waktu tertentu. Dampaknya, nilai tukar uang melemah, yakni jumlah uang yang sama hanya mampu membeli barang lebih sedikit daripada sebelumnya.
Misalnya, jika pada tahun 2000 Anda bisa membeli satu troli belanjaan dengan Rp100.000, kini jumlah tersebut mungkin hanya cukup untuk setengah troli saja. Pemicu kenaikan harga ini antara lain peningkatan biaya produksi, tingginya permintaan pasar, hingga kebijakan moneter pemerintah.
Inflasi sebenarnya adalah gejala yang wajar, tetapi jika terlalu tinggi, daya belinya akan tergerus cepat dan menimbulkan ketidakstabilan perekonomian masyarakat.

Selanjutnya harga emas merupakan nilai tukar emas terhadap suatu mata uang (biasanya US dollar atau rupiah) yang ditentukan oleh keadaan pasar global. Di luar inflasi, faktor yang mempengaruhi harga emas dunia meliputi permintaan, penawaran, kondisi geopolitik, hingga stabilitas ekonomi dunia.
Emas sendiri sudah lama orang anggap sebagai aset lindung nilai (safe haven) mengingat karakteristiknya yang unik yang membuat masyarakat menyimpannya:

Ketika nilai mata uang melemah karena inflasi, harga emas justru cenderung meningkat. Hal ini sudah terbukti dari waktu ke waktu.
Contohnya, pada tahun 2000-an harga emas hanya sekitar Rp100.000 per gram. Lalu sepuluh tahun kemudian, nilainya naik menjadi sekitar Rp400.000 per gram, dan kini harga emas sudah menembus lebih dari Rp1 juta per gram.
Jadi tak perlu diragukan lagi kalau inflasi harga emas naik atau turun dari bukti di atas. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa emas dapat mempertahankan daya beli dan melindungi kekayaan dalam jangka panjang.
Jadi, tidak berlebihan jika emas kita sebut sebagai investasi anti inflasi karena nilainya yang stabil bahkan di tengah krisis ekonomi.

Dari beberapa gambaran di atas Anda tentu bisa menduga hubungan antara inflasi dengan harga emas sangat erat.
Saat inflasi meningkat dan nilai uang menurun, masyarakat pun cenderung mencari aset yang lebih aman, seperti emas. Banyaknya permintaan inilah yang membuat harga emas ikut terdorong naik.
Sebagai contoh, saat inflasi Amerika Serikat melonjak pada tahun 2021, harga emas dunia juga menembus level USD 1.900 per troy ounce. Fenomena ini menunjukkan bahwa setiap kali inflasi naik, emas menjadi pilihan utama bagi investor untuk mengamankan kekayaannya.

Meski sering dianggap ancaman, inflasi sebenarnya bisa menjadi peluang bagi investor. Ketika inflasi menunjukkan gejala meningkat, investor yang memahami pola ini bisa membeli emas saat dan menjualnya kembali saat harga emas mencapai puncak.
Selain itu, menempatkan sebagian dana pada emas juga membantu diversifikasi portofolio investasi, sehingga risiko keuangan lebih terkendali. Dengan strategi yang tepat, inflasi justru bisa menjadi momen untuk memperoleh keuntungan dari pergerakan harga emas.
Dari penjelasan di atas, jelas bahwa hubungan inflasi dengan harga emas sangat erat dan saling memengaruhi. Jika Anda ingin memanfaatkan momentum inflasi dengan menjual emas lama Anda, pastikan melakukannya di tempat yang terpercaya.
Raja Emas Indonesia hadir sebagai solusi terbaik untuk jual emas dengan harga tinggi, proses cepat, dan pelayanan transparan. Jangan biarkan emas Anda diam tanpa nilai, ubah menjadi keuntungan bersama Raja Emas Indonesia sekarang juga.